Rabu, 08 Oktober 2014

Ajarkan Kebiasaan Baik dari Rumah


Ar Riyat HR Management FEUI Alumni

Kesuksesan seorang anak berawal dari pengasuhan dan pendidikan yang baik dari orang tuanya. Begitu juga dengan Prof Anies Rasyid Baswedan,Ph.D yang banyak mengadopsi pola pengasuhan anak yang diberikan orang tuanya dahulu, Drs. Rasyid Baswedan, SU dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd.


DARI pernikahannya dengan Fery Farhati Ganis,S.Psi, Anies Baswedan, Ph.D dikaruniai 4 anak, Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim. Ia menerapkan pendidikan dari orang tuanya dulu.
"Ajari anak dengan pembiasaan," kata pria yang mendapat penghargaan sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat.
Di antaranya pembiasaan taat beribadah, pembiasaan banyak membaca, pembiasaan kerja keras, pembiasaan bersikap santun kepada siapapun, pembiasaaan bertanggung jawab, pembiasaan berbicara di depan umum, pembiasaan berorganisasi, pembiasaan menghadapi tantangan serta pembiasaan-pembiasaan baik lainnya. 
Dengan pembiasaan-pembiasaan itu, kata Anies, pendidikan akan tertanam pada anak. Sehingga, anak akan terbiasa untuk melakukan apa yang telah ditanamkan oleh orangtua mereka.
Begitu pula dengan pembiasaan membaca. Kebiasaan ini mampu melatih anak menyisihkan uang untuk membeli buku, karena mereka sudah terbiasa untuk membaca. Sehingga bila mereka tidak membaca akan merasa ada sesuatu yang hilang. 
”Selain mendidik dengan cara pembiasaan, saya juga membiasakan untuk tak terlalu over protektif kepada anak. Sikap over protektif ini  akan membuat kepribadian  anak lemah. Bagi saya nyerempet-nyerempet sedikit bahaya tidak apa-apa karena itu ada manfaatnya. Salah satunya membuat anak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup nantinya,” kata Rektor Universitas Paramadina ini.
Anies menyontohkan, dulu saat dirinya berusia 5 tahun, dia pernah dikeroyok beberapa anak di halaman samping rumahnya.
”Melihat saya sedang dikeroyok, Ibu tidak langsung melerai atau memukul anak-anak lainnya. Ibu hanya melihat dan memantau dari jauh, berbahaya atau tidak. Sambil pura-pura tidak melihat, Ibu masuk ke rumah. Di dalam rumah Ibu perhatikan saya, dari situ Ibu mengajarkan kepada saya  untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya sendiri,” kenang Anies. Jawa Barat, 7 Mei 1969.


Ajak Jalan Anak Sebelum Tes

Dan menurut Anies, orang tua yang bijak tak harus jadi orang tua yang pemarah.
”Buat apa marah. Nanti kita malah jadi pemarah. Lebih baik kita diam dan melihat permasalahannya apa, nanti baru dicari solusinya,” ungkapnya.direktur riset pada The Indonesian Institute.
Anies menuturkan pola yang dianut dalam mendidik anak, adalah memberikan arahan kepada sang anak untuk gemar membaca serta taat beribadah.
”Sejak anak-anak kecil, saya selalu membiasakan mengajak mereka ke perpustakaan. Di sana saya biarkan mereka mencari buku sendiri, saya hanya memantau dari jauh,” katanya.
Selain membiasakan banyak membaca, dia juga biasa mengajak anak-anak jalan-jalan sehari sebelum ujian dimulai. Kebiasan itu dilakukan agar mereka tidak terpengaruh dengan teman-temannya yang baru belajar menjelang ujian.
Dia tak takut anak-anaknya tak bisa mengerjakan soal ujian. Sebab dia sudah membiasakan anak untuk gemar membaca dan merangkum setiap satu halaman dari pelajaran mereka, empat bulan sebelum ujian dilaksanakan. “Karena itu menjelang ujian, saya malah ngajak anak-anak jalan untuk penyegaran otak,” kata
Anies juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk cinta pada alam dan isinya. Sebagai contoh, sayang pada burung peliharaan.
Di rumahnya, kawasan Lebakbulus Jakarta Selatan, Anies memelihara sejumlah burung. Jumlahnya saat ini “baru” belasan ekor, mulai dari cucakrowo hingga lovebird.
Namun ia  menegaskan, seluruh burung yang dia pelihara di rumahnya merupakan hasil penangkaran.
”Saya tidak ingin ada burung yang dipelihara di rumah merupakan hasil penangkapan,” katanya, serius. Karena memberikan contoh inilah, anak-anak Anies juga menyayangi binatang.
Ia juga sering  mengajak istri dan anak-anaknya ke Gembira Loka Zoo untuk melihat berbagai koleksi burung juga satwa lain, termasuk iguana.
”Pendidikan tak harus selalu diberikan di rumah atau di bangku sekolah, tapi juga dari lingkungannya. Dengan mengunjungi kebun binatang, anak-anak tahu berbagai jenis binatang yang ada, dan mereka bisa melihat secara langsung tak hanya dari gambar.”


——-

Dibutuhkan Orang Tua dan Guru Yang Berkarakter

MENDIDIK adalah tugas moral tiap orang terdidik. Penggagas dan ketua program Indonesia Mengajar ini mengatakan  kita berdosa jika ada anak Indonesia yang tidak terdidik.
”Itu juga berarti guru bukan satu-satunya profesi yang bertugas untuk mendidik anak Indonesia,” katanya.
Lingkungan pendidikan pertama yang ditemui seorang anak adalah keluarga. Pendidikan yang ditawarkan dalam lingkungan ini adalah pendidikan informal. Banyak hal yang dipelajari oleh anak melalui lingkungan ini, misalnya agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral dan sosialisasi.
Anies menyebut karakter seorang anak dimulai  dari rumah. Jadi yang perlu dididik untuk berkarakter  adalah orang tua. Orang tua harus dididik untuk punya karakter sehingga di rumah ada suasana keluarga yang punya karakter. Integritas itu dibangun di situ. Anak jujur atau tidak tergantung orang tua jujur atau tidak. Bukan masalah orang tua mempidatokan, orang tua pasti mempidatokan untuk jujur. Namun yang kita butuhkan orang tua mempraktikkan kejujuran di rumah. Mempraktikkan transparansi  misalnya di rumah. Mempraktikkan prinsip-prinsip yang dalam bahasa agama biasa disebut akhlakul karimah di rumah, sehingga anak-anak bisa belajar dengan cara mencontoh.Di sekolah juga begitu.Siapkan guru-guru untuk memiliki karakter. 
”Setiap orang tua adalah pendidik bagi anak mereka. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Jika pendidikan tersebut berhasil, maka anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang baik dan membanggakan orang tua. Jika tidak, maka bukan salah si anak. Namun orang tua yang perlu mengevaluasi dirinya sendiri. Mungkin ada yang salah dari cara mendidik mereka,” kata Anies saat memberikan kuliah umum pada pembukaan Sekolah Jurnalisme Indonesia Tingkat Utama Angkatan I SJI Jateng, Senin, 13 Mei 2013.
Karena merupakan lingkungan pendidikan pertama, maka pendidikan yang didapatkan oleh anak merupakan bekal untuk menghadapi lingkungan pendidikan selanjutnya, yaitu masyarakat. Jika bekal itu cukup, maka anak akan diterima dengan baik oleh masyarakat. Jika tidak, mungkin akan ada penolakan kecil dari masyarakat. Misalnya, anak tersebut akan dimarahi atau diingatkan oleh masyarakat yang merasa terganggu olehnya.
(Unik A Mumpuni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar