Rabu, 08 Oktober 2014

Saya dan Embun

Embun … 
kita pernah bersimpuh dihadapan-Nya,menyusun sujud pada debu-Nya yang gelap. Kita sulam kata pinta, kita rangkai kalimat doa, memohon agar dalam hidup ini kita diberikan segalanya yang terbaik, agar Ia tunjuki kita jalan yang lurus, istiqomah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, ikhlas menghadapi hidup yang keras. Kemudian airmata kitapun mengalir membasahi malam, sunyi, sepi… 

Embun… 
Kita masih saja lupa dengan sebait pinta yang pernah meluncur deras dari lisan kita yang penuh dosa. 
Lupa akan arti kehidupan, lupa akan perjumpaan dengan-Nya, lupa akan ‘azzam yang sudah lama tertanam, lupa akan suatu hari dimana kelak tak sebaitpun doa akan didengarkan-Nya, tak sejuruspun sujud ada artinya lagi, tak ada arti setiap tangis yang meringis. Kita kembali lupa, entah apa penyebabnya… selalu lupa bahwa mahkamah ALLAH tidak ada pengacara yang bisa kita bayar untuk membela kita. 

Embun… 
Kehidupan yang kita lalui ini, sangatlah tidak berarti, masihkah kita tak mengerti, masihkah pura-pura tuli, ada kehidupan setelah ini !!!… Bila wajah pucat kaku itu adalah wajah kita, bila tubuh lemah yang terbujur itu adalah tubuh kita, bila tangis itu adalah tangis melepas kita, bila kain kafan harus menjadi pakaian terindah kita, bila kapas putih harus menutup wajah cantik kita, apa yang dapat kita lakukan? kepada siapa kita kembali kalau bukan kepada Rabb yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya. 

Embun… 
Kini, masihkah kita pantas menengadahkan tangan, setelah sekian banyak mungkir kita lakukan, setelah seribu dusta kita ucapkan.Masihkah kita berani mengangkat wajah yang kelam ini di hadapan-Nya setelah olok-olok ayat-Nya kita pertontonkan, masihkah kita berani? masihkah kita berani bermaksiat jika kita tahu bahwa ALLAH sedang menatap kita, bahwa kita tahu ALLAH sedang menatap kita 

Embun… 
Kemana kaki lemah ini hendak melangkah, 
kemana jiwa yang resah ini kita papah, 
kemana hati yang sombong ini kita gotong, 
kemana dosa-dosa ini kita bawa, kemana lagi 
kita bawa, jika Rabb telah murka. Kepada 
penguasa duniakah kita mengadu, atau kita 
kembali lagi kepada-Nya. Mengeja lagi sebait 
doa yang mungkin lidah kita sudah kelu 
mengulangnya, mari kita coba lagi 
melantunkannya, mudah-mudahan Rabbi 
berkenan menerima pengampunan. 

Embun… 
Kita harus kembali pada-Nya, kepada Rabbi 
yang telah memberi kita rezeki. Sebelum kita 
benar-benar mengakhiri dunia ini. Titipkanlah 
kerinduan pada malam, sampaikan padanya 
jangan pernah merenggang, agar senantiasa 
bisa kita menikmati sepertiga malam, untuk 
sampaikan pesan agar hikita berlimpah iman. 

Embun… 
Tiada guna penyesalan, masih ada waktu, 
mari kita sama-sama perbaiki diri, benahi 
hati, sucikan jiwa. Tuailah ibrah dalam setiap 
kejadiaan. Mari melangkah kedepan, kita 
sambut hari esok penuh ceria, lukislah 
prestasi, gapai kemajuan, detik ini, besok 
ataupun nanti, hari-hari kita harus penuh 
prestasi. Kelak nanti akan kita temui 
kehidupan yang indah, diridhoi, diberkahi, 
tidak saja di dunia tapi juga di akhirat nanti. 

Embun… 
Kita adalah mata pena yang tajam, yang siap 
menuliskan kebenaran. Kita adalah panah- 
panah terbujur, yang siap dilepaskan dari 
busur dan kita adalah karang yang terus 
diterpa ombak hinaan … kita bukan siapa 
siapa kalau bukan karena kasih sayang ALLAH. 

ALLAH … 
Saya hadapkan wajah kuyu milik 
saya kehadapan-Mu. Saya mohon ampun 
atas segala khilaf. Saya menyadari 
betapa saya sangat lemah dan senantiasa 
tergantung pada-Mu. Rabbi, 
Anugerahilah saya ketaatan kepada-Mu 
sepanjang hayat saya. Tunjukilah saya 
kepada sesuatu yang membuat Engkau ridho, 
dan lindungilah saya dari segala sesuatu yang 
menyebabkan terbitnya murka-Mu pada saya. 

ALLAH … 
Saya ketuk pintu taubatmu, ampuni karat- 
karat dosa saya. Leraikan saya dari tamak 
dunia dan dominasi ambisi, Lepaskan saya 
dari sesak durjana dan nafsu amarah yang 
hanya akan mengurangi kemuliaan saya di 
hadapan-Mu. Rabbi, tiada Tuhan selain 
Engkau, terangilah hati saya dengan cahaya- 
Mu yang tiada pernah pudar, lapangkanlah 
dada-dada saya dengan limpahan keimanan 
kepada-Mu dan keindahan bertawaqal pada-Mu. 

Rabbana … 
Jangan jadikan tafakur saya ini hanya 
sebatas rangkaian kata dan penghias lisan 
saya. Jadikanlah ia hijab yang tangguh dan 
kaca yang bening Di tengah pertarungan yang 
haq dan batil dalam hidup saya yang 
senantiasa saya hadapi dalam setiap tarikan 
nafas saya… Sulit saya bertahan, jika 
tidak saya perbaharui terus perjanjian saya 
dengan-Mu. Sulit saya tenang, jika tidak 
selalu menyebut nama-Mu dalam muhasabah 
harian saya… 

Ya ALLAH …
jika tak kau kabulkan doa doa 
saya, kepada siapa lagi saya meminta, 
kemana lagi saya harus memohon jika bukan 
kepadaMU. 

Ya ALLAH 
beri saya ruang untuk menjadi 
baik, lebih baik dan lebih baik lagi … 
cukuplah hanya ENGKAU yang tahu seberapa 
jauh saya berusaha untuk menjadi baik dan 
lebih baik lagi. 

Cukuplah hanya ENGKAU … 

( rindu )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar