Selasa, 07 Oktober 2014

Ikhlas


Menemukan catatan di blog tetangga... setidaknya memberikan pembelajaran pada aku untuk menerima setiap apapun resiko yang sudah menjadi pilihan kita. Penerimaan dan penolakan mungkin hal yang wajar tetapi terkadang berat untuk diterima, tapi yang terpenting disaat kita ikhlas menerimanya dan selalu berusaha berpikiran positif, mudah-mudahan memberikan hasil yang terbaik untuk kita. ( dee'09 )




Entah bagaimana, tiba-tiba saja suatu kejadian, suatu keadaan telah ada di hadapan kita yang mau tak mau harus kita jalani. Seolah tidak ada jalan lain lagi untuk mengubah keadaan yang sudah menelikung kehidupan kita. Lantas, agar tidak frustrasi berkepanjangan, maka banyak orang yang mengatakan “Manusia merencanakan dan Tuhan yang memutuskan” atau “hidup ini seperti air, ikuti saja kemana arah air mengalir”. Benarkah kita harus hidup dengan cara demikian? mengalir bagai air ?

Pertanyaannya adalah, mengapa harus mengikut arus? Bukankah Tuhan membebaskan kita untuk memilih! kehidupan menyajikan pilihan-pilihan dan nasib adalah konsekuensi logis dari sebuah keputusan atas pilihan-pilihan yang diambil, untuk itu manusia harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Kehidupan adalah kesetiaan terhadap tanggung jawab dalam memilih maupun tidak memilih opsi-opsi yang tersedia, atas resiko yang harus diemban ketika kita telah memutuskan sebuah pilihan.

Maka, jangan pernah terjebak pada pernyataan “hidup mengalir bagai air” karena air yang mengalir belum tentu mengalir ke tempat yang menguntungkan, namun resikonya kita yang harus menanggung. Manusia harus bersikap, manusia harus memilah dan manusia harus memilih serta konsisten atas pilihannya. Tidaklah bijaksana jika hanya mengikuti kemana arus mengalir. Manusia harus memutuskan kapan ikut arus, dimana harus berhenti, kapan harus melawan arus, dan dimana harus keluar dari pusaran!

Memang ada “harga” yang harus dibayar atas sebuah pilihan yang telah ditentukan itu, dan harga tersebut sesuai dan pantas, sebanding dengan nilai pilihan-pilihan itu. Keluh kesah adalah ketidak-ikhlasan dalam membayar harga dari sebuah pilihan yang telah diputuskan. Karenanya, ikhlas adalah kunci kebahagiaan.

Ikhlas adalah kesanggupan menerima segala resiko atas pilihan yang telah diputuskan untuk diambil, menjalaninya dengan tawakal dan berserah diri dan selanjutnya mengkoreksi diri sekiranya ada keputusan yang kurang tepat dalam memilih opsi yang tersedia.

Hidup adalah pelatihan sepanjang masa. Berlatih untuk selalu tepat, cepat dan akurat dalam memilih opsi-opsi kehidupan yang tersedia. Hidup melatih kita untuk konsisten, bertanggung jawab dan menerima dengan ikhlas resiko yang timbul atas pilihan yang kita tetapkan.

 ( Wisnu Darjono )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar