Selasa, 07 Oktober 2014

: : Obat Patah Hati Paling Mujarab : :


Obat patah hati paling manjur jatuh cinta lagi? Belum tentu. Obat patah hati paling mujarab adalah waktu. Meski tidak bisa dipaksa bekerja instan, waktu bukan saja mampu meredakan sakit, namun sekaligus menyembuhkannya.


Karena itu, saat patah hati, yang paling diperlukan adalah mengambil waktu untuk ‘tarik napas’ sejenak guna memberi kesempatan pada tubuh dan hati untuk membenahi diri. Waktu normalnya, antara satu hingga enam bulan. Proses ini berlangsung secara bertahap.

Tahap pertama biasanya merupakan masa ‘berduka cita’. Misalnya dengan menangis sepuas-puasnya atau ‘menikmati’ kesedihan. Meskipun terkesan cengeng, periode ini sesungguhnya sangat penting. Bagaimanapun, air mata manjur untuk membersihkan ‘racun-racun’ yang menggerogoti tubuh dan jiwa.
Selanjutnya, masuk ke periode ‘buang sampah’ alias curhat sana-sini. Beruntunglah kaum wanita, karena kita punya banyak telinga yang bersedia menampung keluh kesah. Makin banyak ‘sampah’ dibuang, makin lega pula hati.
Tahap selanjutnya adalah kembali bersosialisasi atau menjalankan hobi setelah sebelumnya mengurung diri di kamar berhari-hari dan berminggu-minggu. Selain untuk mengalih¬kan pikiran dari kesedihan, Anda juga belajar untuk menikmati kembali kebersamaan dan kegembiraan hidup.

Biasanya, kalau berhasil melewati tiga tahapan ini, bisa dikatakan Anda sudah ‘sembuh’ 75%. Setelah itu, barulah Anda bisa mempertimbangkan kembali kehadiran cinta baru dengan lebih rasional, sehat, dan bebas dari trauma cerita lalu.

Tapi sayangnya, kadang-kadang sulit untuk sabar melewati proses yang tak bisa ditentukan waktunya itu. Apalagi bila ada seseorang menyodorkan cinta baru, yang sepintas terasa bagai setetes air di tengah padang tandus. Padahal sebetulnya saat itu kondisi Anda belum siap untuk menerima cinta baru karena luka lama masih ‘berdarah’.
Celakanya, tak jarang cinta baru disambut terburu-buru tanpa pikir panjang. Padahal, mungkin saja pria baru ini hanya Anda jadikan sosok pelarian agar cepat sembuh dari penderitaan atau untuk membalas dendam pada mantan kekasih.

Kondisi serba tak siap inilah yang biasanya mengundang risiko tinggi untuk jatuh lagi ke lubang sama. Bukannya menyembuhkan hati yang luka, yang ada hati malah dobel hancurnya. Namun tidak selamanya cinta pelarian berakhir gagal. Nyatanya, ada juga yang beruntung

(femina.co.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar